Sabtu, 18 September 2010

Percik Air

Sore itu hujan turun dengan lebat. Ketika langit menggelap dan titik air pertama telah jatuh di atap, kening cantik Maria mengerut. Sudah terlalu banyak lubang di rumah itu sehingga hujan sekecil apapun pasti mengakibatkan kebocoran dan genangan air di mana-mana.

Maria bergegas beranjak dari ranjang. Semoga tidak ada lagi lubang tambahan karena semua ember, panci bahkan pinggan telah digunakan. Maria tidak tahu apakah masih ada wadah yang dapat dipakai untuk menampung bocoran air hujan.

Merasakan gerakan istrinya, Yosef bertanya, “Mau ke mana? Tidurlah lagi.”

“Air hujan itu,” jawab Maria singkat sambil mencari sandalnya di kolong ranjang.

“Sudahlah. Biarkan saja. Tak banyak barang di rumah ini untuk dirusak hujan dan rumah ini pun begitu kecil sehingga genangan air seluas apapun tak akan lama untuk dibersihkan.”

Maria duduk dengan ragu-ragu di tepi ranjang.

“Maria, berbaringlah kembali dan dengarkanlah suara hujan. Setiap kali hujan datang kita selalu sibuk dengan kesusahan. Sudah terlalu lama kita lupa, bahwa di dalam hujan pun ada keindahan. Berbaringlah kembali, kita nikmati sisa hari ini; keindahan dan kesusahannya, sebagaimana aku telah memelukmu dan akan terus mendekapmu selama sisa hidupku. Biarlah kesemuanya itu menyatu dalam kegembiraan kita.”

Perlahan, air mata mengaliri pipi Maria. Bening dan bernasnya sebutir air itu tak akan pernah dapat dikalahkan oleh ribuan tetes air hujan.*

Tidak ada komentar: