Rabu, 19 Agustus 2009

Selimut

Kami saling memandang.

Aku melihat sedikit pemberontakan di matanya, namun juga menangkap sekilas senyum samar di bibirnya. Cinta adalah saat ketika kau membiarkan orang lain menjadi dirinya sendiri. Membiarkan kau menjadi dirimu sendiri juga, sebab hanya dengan cara itu kau bisa bergandengan tangan dan melangkah bersama. Sesekali kau merasa dia bergerak menjauh, namun dengan segenap kerinduan kau akan menariknya kembali ke dalam kehangatan kasihmu. Mungkin juga sesekali kau merasa dia terlalu dekat sementara kau butuh sedikit jarak, sehingga kau akan berjalan sedikit menjauh meski tak pernah kau lepaskan genggaman tanganmu.

Kami berdiri dan saling pandang, lalu bersama menatap dua helai selimut yang terlipat rapi di atas tempat tidur. Aku mengambil satu di antaranya, lalu menekuknya dalam lipatan yang lebih kecil dan memasukkannya ke dalam sebuah tas kain besar. Tak perlu kata-kata, sebab pemahaman selalu jauh melampaui kata-kata.


Malam ini, selimut yang terlipat rapi itu tak hadir di kamar kami. Ia akan memberikan kehangatan bagi seseorang yang membutuhkannya. Aku berharap selimut itu tidak hanya memberikan rasa nyaman dari udara dingin yang menyergap, namun juga menyampaikan pesan kehadiran kami sendiri. Kita tak selalu bisa berada di samping seseorang dalam arti yang sesungguh-sungguhny a, akan tetapi kita senantiasa ada dalam rupa yang lebih halus dan samar seperti ingatan, kasih sayang, bahkan benda-benda yang mempunyai kaitan dengan diri kita.


Dengan cara itulah kita hadir; barangkali menjadi semacam pengertian yang lambat laun menjelma, bahwa pada suatu saat nanti kita akan benar-benar terlepas dari semua ikatan material ini dan melarut dalam semesta. Tak ada selimut yang akan menghangatkanmu di sana. Hanya ingatan, kenangan, hati dan senyummu sendiri.


Malam itu, hanya dengan sehelai selimut, kami mencoba saling menghangatkan di tengah dingin yang menyengat. Ini bukanlah suatu jenis dingin yang kejam, melainkan yang justru mengantarmu pada sebuah kesadaran bahwa kita sungguh-sungguh saling membutuhkan. Dengan sehelai selimut untuk berdua, kau tahu bahwa tak cukup ruang bagimu untuk mendapatkan rasa hangat yang nyaman. Karena itulah, kau tidur lebih berdekatan, barangkali juga dengan cara yang belum pernah kau temukan; membuatmu menyadari dengan gembira bahwa ada kehangatan yang jauh lebih nyaman, melebihi yang dapat diberikan selimut yang paling hangat.*

Sebuah Pilihan

"Aku tidak tahu apakah pilihanku tepat," laki-laki itu pada akhirnya berkata.

Aku memandang kedua matanya. Sementara itu, kereta api berjalan terus dan terus, mengguncangkan kami dalam irama dan pola-pola.

Setahun yang lalu, laki-laki itu adalah seorang manajer sebuah perusahaan ekspor-impor. Hidupnya berkecukupan. Dalam waktu senggangnya, ia mendampingi sebuah komunitas petani di sebuah desa kecil. Bersama mereka, ia mempertahankan tanah dan mengembangkan pertanian.

Bukan hal yang mudah. Adalah realitas, bahwa para petani menjual sawah dan ladangnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik di kota. Sebagian di antaranya menjadi tenaga kerja di luar negeri. Mereka telah muak diperbudak oleh harga benih dan pupuk yang mahal. Mereka bahkan masih harus membayar lebih mahal lagi atas kerusakan lahan akibat penggunaan pupuk kimia; tanah, tak lagi bersahabat. Mereka juga telah bosan dipermainkan oleh harga komoditas pangan, atau diperdaya oleh rentenir yang kejam. Mereka pun pergi dari desa, untuk mencoba peruntungan di kota. Tak semua berhasil tentu saja. Seringkali, rencana yang tadinya begitu penuh harapan, terpaksa berakhir menjadi bencana.

Laki-laki di sampingku itu lantas membuat suatu pilihan. Ia meninggalkan hidupnya yang berkecukupan, lantas dengan berani, hidup bersama para petani meskipun berkekurangan. Ia tanggalkan kemeja rapi dan dasinya, tas kantor dan berkas-berkas yang biasa menyesaki tangannya, lalu mengganti semua itu dengan baju yang lusuh dan cangkul di tangan. Ia tinggalkan kantor berpendingin ruangan untuk bergumul dengan lumpur di sawah dan matahari yang bersinar terik membakar punggungnya.

"Aku tidak tahu apakah pilihanku itu tepat," ujar laki-laki itu.

Aku menoleh kepadanya dan diam sejenak. "Kurasa tak ada pilihan yang tepat atau tidak. Pilihan adalah pilihan. Setelah memilih, kita belajar untuk setia dan menghidupi pilihan itu... tanpa perlu mempersoalkan tepat atau tidaknya. Akan menjadi masalah jika kita ternyata menjalani pilihan itu dengan setengah-setengah, atau bahkan menyesalinya sama sekali."

Kami pun terdiam. Sementara itu, kereta api berjalan terus dan terus. Mengantarkan kami pada suatu tujuan, pada sebuah pilihan...*