Rabu, 19 Agustus 2009

Sebuah Pilihan

"Aku tidak tahu apakah pilihanku tepat," laki-laki itu pada akhirnya berkata.

Aku memandang kedua matanya. Sementara itu, kereta api berjalan terus dan terus, mengguncangkan kami dalam irama dan pola-pola.

Setahun yang lalu, laki-laki itu adalah seorang manajer sebuah perusahaan ekspor-impor. Hidupnya berkecukupan. Dalam waktu senggangnya, ia mendampingi sebuah komunitas petani di sebuah desa kecil. Bersama mereka, ia mempertahankan tanah dan mengembangkan pertanian.

Bukan hal yang mudah. Adalah realitas, bahwa para petani menjual sawah dan ladangnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik di kota. Sebagian di antaranya menjadi tenaga kerja di luar negeri. Mereka telah muak diperbudak oleh harga benih dan pupuk yang mahal. Mereka bahkan masih harus membayar lebih mahal lagi atas kerusakan lahan akibat penggunaan pupuk kimia; tanah, tak lagi bersahabat. Mereka juga telah bosan dipermainkan oleh harga komoditas pangan, atau diperdaya oleh rentenir yang kejam. Mereka pun pergi dari desa, untuk mencoba peruntungan di kota. Tak semua berhasil tentu saja. Seringkali, rencana yang tadinya begitu penuh harapan, terpaksa berakhir menjadi bencana.

Laki-laki di sampingku itu lantas membuat suatu pilihan. Ia meninggalkan hidupnya yang berkecukupan, lantas dengan berani, hidup bersama para petani meskipun berkekurangan. Ia tanggalkan kemeja rapi dan dasinya, tas kantor dan berkas-berkas yang biasa menyesaki tangannya, lalu mengganti semua itu dengan baju yang lusuh dan cangkul di tangan. Ia tinggalkan kantor berpendingin ruangan untuk bergumul dengan lumpur di sawah dan matahari yang bersinar terik membakar punggungnya.

"Aku tidak tahu apakah pilihanku itu tepat," ujar laki-laki itu.

Aku menoleh kepadanya dan diam sejenak. "Kurasa tak ada pilihan yang tepat atau tidak. Pilihan adalah pilihan. Setelah memilih, kita belajar untuk setia dan menghidupi pilihan itu... tanpa perlu mempersoalkan tepat atau tidaknya. Akan menjadi masalah jika kita ternyata menjalani pilihan itu dengan setengah-setengah, atau bahkan menyesalinya sama sekali."

Kami pun terdiam. Sementara itu, kereta api berjalan terus dan terus. Mengantarkan kami pada suatu tujuan, pada sebuah pilihan...*

Tidak ada komentar: