Sabtu, 18 September 2010

Tanda

"Berikan aku tanda!" Perempuan itu menangis di ujung dermaga. "Berikan aku tanda, apa saja!"

Laki-laki kekasihnya melambaikan tangan dari atas geladak. Perlahan, kapal menjauh. Masih sampai di telinganya, suara tersedu-sedu di tengah angin yang menderu.

Laki-laki itu memandang si perempuan di kejauhan. Ia selalu meminta tanda. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya perlahan. Di tengah lautan, tanda macam apakah yang bisa kuberikan?

Gadisku, tidakkah air matamu itu adalah suatu tanda? Bukankah rasa rindumu, keluh kehilanganmu pun adalah suatu tanda? Kembalilah ke dermaga; kau akan menemukan bekas-bekas tapak sepatumu di sana. Itu adalah sebuah tanda juga.

Tanda apa lagi yang kau harapkan?

Tanda-tanda itu adalah bukti ketertautan kita. Bahkan tanda-tanda itu masih bermakna, ketika aku, kau juga kita, telah tiada.

Kekasihku, kita pun adalah suatu tanda...*

Percik Air

Sore itu hujan turun dengan lebat. Ketika langit menggelap dan titik air pertama telah jatuh di atap, kening cantik Maria mengerut. Sudah terlalu banyak lubang di rumah itu sehingga hujan sekecil apapun pasti mengakibatkan kebocoran dan genangan air di mana-mana.

Maria bergegas beranjak dari ranjang. Semoga tidak ada lagi lubang tambahan karena semua ember, panci bahkan pinggan telah digunakan. Maria tidak tahu apakah masih ada wadah yang dapat dipakai untuk menampung bocoran air hujan.

Merasakan gerakan istrinya, Yosef bertanya, “Mau ke mana? Tidurlah lagi.”

“Air hujan itu,” jawab Maria singkat sambil mencari sandalnya di kolong ranjang.

“Sudahlah. Biarkan saja. Tak banyak barang di rumah ini untuk dirusak hujan dan rumah ini pun begitu kecil sehingga genangan air seluas apapun tak akan lama untuk dibersihkan.”

Maria duduk dengan ragu-ragu di tepi ranjang.

“Maria, berbaringlah kembali dan dengarkanlah suara hujan. Setiap kali hujan datang kita selalu sibuk dengan kesusahan. Sudah terlalu lama kita lupa, bahwa di dalam hujan pun ada keindahan. Berbaringlah kembali, kita nikmati sisa hari ini; keindahan dan kesusahannya, sebagaimana aku telah memelukmu dan akan terus mendekapmu selama sisa hidupku. Biarlah kesemuanya itu menyatu dalam kegembiraan kita.”

Perlahan, air mata mengaliri pipi Maria. Bening dan bernasnya sebutir air itu tak akan pernah dapat dikalahkan oleh ribuan tetes air hujan.*