
Mungkin telah kususuri seribu kali anak-anak tangga ini. Langkah demi langkah yang semakin mendekatkan aku kepada-Mu. Setiap jejak yang kubuat, menapakkan duka dan gembira, kelelahan maupun harapan, kelimpahan akan Dikau dan kekosongan yang hampa.
Ttidakkah Kau mau menoleh, dan melihatku terengah-engah mengejar-Mu? Aku terantuk dan jatuh. Sakit. Lihat, lukaku dalam dan mengeluarkan darah. Aku tahu bahwa luka semacam ini pada akhirnya akan meninggalkan bekas. Seumur hidupku. Mungkin karena itulah orang sangat berhati-hati agar tidak terjatuh. Tapi sungguh ironis, bahwa jatuh ternyata adalah satu-satunya cara untuk membuatku berhenti sejenak.
Dan perjalanan ini tak terlalu buruk, sebenarnya. Ketika terduduk seraya mengusap-usap luka itu, aku makin dekat dengan jalanan sehingga menyadari terjalnya. Tapi tak bisa kusangkal ada keindahan di antara batuan tajam itu. Dan bukankah hanya Engkau, yang selama ini begitu indah sekaligus sangat menakutkan? Begitu diam tapi penuh dengan kemarahan?
Bantu aku untuk berdiri. Jangan segera menghilang di kelokan jalan. Jadilah apapun yang Kau mau. Seorang teman, mungkin. Atau cukup seekor anjing yang manis dan lucu. Apapun yang bisa membantuku untuk berdiri dan menemaniku melangkah kembali. Dalam perlahan tentu saja, sebab luka ini membuatku tertatih-tatih. Haruskah kubawa juga rasa sakit sepanjang sisa perjalanan?
“Bukankah telah Ku-berikan padamu orang-orang lain? Jadikan mereka sesamamu, dan jadilah sesama bagi mereka.”
Itukah suara-Mu? Bening dan semerdu lonceng gereja. Namun juga dahsyat dan menggelegar seperti guruh di kegelapan malam. Kau berikan padaku sesama. Ah ya, tapi di manakah mereka sekarang?
“Mereka hanya akan menjauh jika kau pun menjauh.”
Tapi aku tidak menjauh. Aku justru semakin dekat. Terus semakin dekat. Merekalah yang tidak tahan berada di dekatku dan menghindar. Mereka yang menjauhkan diri dariku, hanya karena aku berkeras menjadi diri sendiri. Ya. Bukankah semakin dekat berarti semakin jelas melihat? Bukankah dengan semakin dekat, kita juga akan semakin jelas melihat sisi-sisi gelap yang selama ini tersembunyi dari cahaya?
Orang tidak suka berdekatan, karena dalam kedekatan tersembunyi sebuah misteri yang tak tertanggungkan.
Dalam jarak, kita tak perlu tahu terlalu jauh tentang satu sama lain. Pengetahuan adalah sesuatu yang menyakitkan, bukan? Dan ketika aku membuka diri kepada orang lain sehingga mereka tahu siapa aku, mereka pun menyadari bahwa aku tidaklah sama persis sebagaimana mereka inginkan. Ya. Menjadi diri sendiri, hampir selalu tak lagi seperti yang orang harapkan, bukan? Tapi bukankah itu persisnya mengapa Kau ciptakan kami semua? Dalam keberbedaan, apakah lagi yang bisa kami kagumi, selain daya cipta-Mu yang luar biasa dan tak ada tandingannya?
Aku yakin, Kau tersenyum dari kejauhan. Berbeda menjadi anugerah sekaligus bencana bagi manusia. Kami bisa tertawa bersama, namun juga bertikai bahkan membunuh satu sama lain hanya karena berbeda. Kau tersenyum dari kejauhan, namun aku tahu betapa menyakitkannya juga hal itu bagi-Mu. Setiap tawa kami adalah tawa-Mu, dan setiap butir air mata kami tak dapat menandingi butir-butir air mata agung-Mu yang menetes bersamaan dengan kesedihan kami. Bukankah Engkau mampu menyelami hati kami, sehingga apapun yang kami rasakan akan Kau ketahui juga?
Kekuatan-Mu sungguh dahsyat. Kemampuan untuk menanggung semuanya ini sungguh tak terbayangkan. Betapa sombongnya kami semua saat boleh mengenangkan perjalanan-Mu sendiri, sengsara-Mu sendiri, melalui Jumat Agung-Mu. Jika kami tak selalu sanggup menahan penderitaan yang menjadi milik kami, bagaimana mungkin kami bisa mengambil bagian dari kesengsaraan-Mu yang begitu dahsyat itu?
Apakah seharusnya aku tak boleh mengeluh, cuma karena terjatuh dan terluka sedikit seperti ini? Tapi bukankah setiap keluhanku adalah sebuah pengakuan akan kebesaran nama-Mu; semacam keinsyafan bahwa aku hanyalah si lemah yang selalu membutuhkan Dikau?
Bahkan dalam kesendirian ini, yang tinggal hanyalah Kau dan aku. Semua orang boleh pergi, tak lagi yang tersisa hanya sekadar untuk memegang jemariku atau mengusap pipiku yang basah oleh air mata, namun kepergian mereka hanya membuat pandanganku tak lagi terhalang saat mencoba menangkap keagungan cahaya-Mu. Daun-daun pepohonan, yang selama ini meneduhi perjalanan, terkuak sehingga aku dapat menatap matahari. Jadi, aku tak perlu terlalu bersedih bukan?
“Kau harus tetap merasakan kesedihan itu. Dirimu adalah luka bagi yang lain. Dengan kesedihanmu, kau akan dapat memahami bagaimana luka karena engkau telah menyakiti banyak orang.”
Tapi...
“Bukankah kau masih bisa tertawa bersama-Ku?”
Ah. Aku selalu menyukai selera humor-Mu.
Seseorang pernah berkata, bahwa ada sebuah waktu yang lama antara kematian dan kebangkitan. Pada saat itu, akan terasa sebuah kerinduan akan Dikau yang sangat luar biasa menyakitkan. Memandang cahaya-Mu saat ini, kuberanikan diri untuk meminta: jangan tunggu aku sampai mati agar aku boleh merasakan kerinduan yang menyakitkan itu. Berikan itu padaku sekarang...
“Selamat datang di Getsemani-Ku.”*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar